RTX 5090 vs M5 Max: Adu Kencang AI di Laptop

RTX 5090 vs M5 Max menjadi duel menarik bagi pengguna yang ingin menjalankan kecerdasan buatan secara lokal melalui laptop. Benchmark terbaru memperlihatkan GPU flagship NVIDIA dapat unggul jauh ketika menjalankan sejumlah Large Language Model atau LLM.

Namun, hasil pengujian tidak sesederhana menyebut RTX 5090 sebagai pemenang mutlak.

Ketika ukuran model dan context length meningkat hingga melampaui kapasitas VRAM, MacBook Pro dengan M5 Max justru menunjukkan keunggulan besar berkat Unified Memory hingga 128GB.

Pengujian dilakukan content creator teknologi Alex Ziskind menggunakan Razer Blade 18 dengan GeForce RTX 5090 Laptop GPU. Lawannya adalah MacBook Pro 16 inci yang menggunakan chip Apple M5 Max.

Dalam beberapa pengujian LLM, laptop RTX 5090 mampu memberikan performa hingga sekitar 133 persen lebih tinggi. Keunggulan tersebut terlihat selama keseluruhan model dan kebutuhan konteks masih dapat ditampung secara optimal dalam VRAM GPU.

RTX 5090 vs M5 Max Diuji untuk Menjalankan LLM

Perbandingan RTX 5090 vs M5 Max kali ini berbeda dengan benchmark laptop pada umumnya.

Pengujiannya tidak berfokus pada frame rate game, rendering 3D, atau aplikasi editing video. Kedua perangkat digunakan untuk menjalankan model AI secara lokal.

Beberapa model yang masuk dalam pengujian meliputi Gemma 4 12B, Qwen3.5 27B, dan Qwen3.6 35B A3B.

Pengujian tersebut menggunakan llama.cpp, salah satu framework populer untuk menjalankan LLM secara lokal.

Dua indikator utama yang diperhatikan adalah prompt processing dan token generation.

Prompt processing menggambarkan seberapa cepat perangkat membaca serta memproses informasi yang diberikan pengguna.

Sementara itu, token generation menunjukkan kecepatan perangkat menghasilkan jawaban setelah proses awal selesai.

Semakin tinggi jumlah token per detik, semakin cepat respons AI dapat ditampilkan.

RTX 5090 Laptop Unggul hingga 133 Persen

Pada beberapa model yang dapat dimuat dengan baik di dalam VRAM, RTX 5090 Laptop GPU menunjukkan keunggulan besar.

Wccftech melaporkan hasil pengujian memperlihatkan keunggulan hingga 133 persen dalam sejumlah beban kerja prompt processing dan token generation dibandingkan M5 Max.

Model seperti Gemma 4 12B, Qwen3.5 27B, serta Qwen3.6 35B A3B menjadi contoh beban kerja yang cocok dengan karakter GPU NVIDIA.

Selama kapasitas VRAM belum menjadi hambatan, RTX 5090 dapat memanfaatkan kemampuan komputasi GPU serta ekosistem CUDA untuk menghasilkan throughput tinggi.

Keunggulan tersebut membuat laptop dengan RTX 5090 menarik bagi developer yang menjalankan model AI berukuran kecil hingga menengah.

Terutama jika prioritas utamanya adalah kecepatan menghasilkan respons.

Mengapa RTX 5090 Begitu Cepat untuk AI?

GeForce RTX 5090 Laptop GPU merupakan GPU kelas tertinggi NVIDIA untuk laptop dalam keluarga Blackwell.

Spesifikasi resmi NVIDIA mencatat GPU ini memiliki 10.496 CUDA Core dan kemampuan komputasi AI hingga 1.824 AI TOPS.

GPU tersebut juga dibekali 24GB GDDR7 dengan bandwidth memori mencapai 896GB/s.

Bandwidth tinggi membantu GPU memindahkan data dengan cepat ketika model AI sedang melakukan proses inferensi.

CUDA juga menjadi faktor penting.

Ekosistem software NVIDIA telah digunakan luas dalam pengembangan AI. Banyak framework dan aplikasi dapat memanfaatkan akselerasi GPU NVIDIA secara langsung.

Untuk model yang seluruh komponennya dapat ditempatkan di VRAM, proses komputasi tidak perlu terlalu sering berpindah ke system memory.

Kondisi inilah yang dapat menghasilkan peningkatan performa besar.

VRAM 24GB Menjadi Batas RTX 5090 Laptop

Kecepatan tinggi tersebut memiliki satu keterbatasan penting.

RTX 5090 versi laptop hanya memiliki VRAM sebesar 24GB.

Kapasitas tersebut sangat besar untuk gaming dan cukup memadai untuk banyak model AI lokal. Namun, kebutuhan memori LLM dapat meningkat sangat cepat.

Ukuran model bukan satu-satunya faktor.

Context length, metode kuantisasi, KV cache, dan konfigurasi inferensi juga menggunakan memori.

Ketika kebutuhan total mendekati kapasitas 24GB, ruang gerak RTX 5090 semakin kecil.

Begitu kebutuhan memori melewati VRAM, sebagian data harus dipindahkan atau diproses menggunakan memori sistem.

Perpindahan tersebut dapat mengurangi keunggulan performa GPU secara drastis.

RTX 5090 vs M5 Max Berubah Saat Context Membesar

Dampak tersebut terlihat sangat jelas dalam salah satu pengujian RTX 5090 vs M5 Max.

Alex Ziskind menguji Qwen3 4B dalam konfigurasi 4-bit dengan context length mencapai 262.144 token.

Pada kondisi tersebut, hampir seluruh VRAM 24GB milik RTX 5090 telah terpakai.

Hasilnya, RTX 5090 Laptop hanya mampu menghasilkan sekitar 25,28 token per detik.

M5 Max justru mencatat sekitar 181,40 token per detik pada pengujian tersebut.

Selisihnya sangat besar.

Menariknya, performa RTX 5090 kembali meningkat ketika context length diturunkan menjadi sekitar 68 ribu token.

Kecepatannya kemudian melonjak menjadi sekitar 160,36 token per detik.

Hasil itu menunjukkan bahwa keterbatasan bukan hanya berasal dari kemampuan komputasi GPU.

Kapasitas memori juga memainkan peran besar dalam inferensi AI.

M5 Max Punya Unified Memory hingga 128GB

Inilah senjata utama Apple dalam perbandingan tersebut.

M5 Max dapat dikonfigurasi dengan Unified Memory hingga 128GB.

Apple juga meningkatkan bandwidth memori pada konfigurasi M5 Max tertinggi hingga 614GB/s. Chip tersebut tersedia dengan CPU 18-core dan GPU hingga 40-core.

Unified Memory memiliki pendekatan berbeda dibandingkan laptop Windows dengan CPU dan GPU diskret.

CPU dan GPU Apple dapat mengakses kumpulan memori yang sama.

Artinya, tidak ada pembagian kaku seperti 24GB VRAM untuk GPU dan RAM terpisah untuk CPU.

Untuk penggunaan AI lokal, kapasitas ini memberikan keuntungan besar.

Model yang membutuhkan puluhan gigabyte dapat ditempatkan pada memory pool yang jauh lebih besar.

Itulah alasan M5 Max mampu menjalankan model tertentu yang terlalu besar jika harus sepenuhnya dimuat dalam VRAM RTX 5090 Laptop.

Qwen3.5 122B Jadi Contoh Kekuatan M5 Max

Perbedaan tersebut semakin terlihat ketika benchmark beralih ke Qwen3.5 122B.

Model dengan skala tersebut membutuhkan memori jauh lebih besar.

Konfigurasi RTX 5090 Laptop 24GB tidak mempunyai cukup VRAM untuk menjalankannya sepenuhnya dengan pendekatan yang sama.

M5 Max 128GB masih memiliki ruang.

Dalam pengujian yang dilaporkan Wccftech, M5 Max menggunakan sekitar 94GB memori ketika menjalankan Qwen3.5 122B.

Kecepatan prompt processing tercatat sekitar 139 token per detik.

Sementara itu, token generation berada pada sekitar 47,4 token per detik.

Angka tersebut memberikan gambaran mengenai keunggulan kapasitas memory Apple.

M5 Max mungkin kalah pada beberapa model yang lebih kecil, tetapi mampu masuk ke kategori model yang tidak praktis dijalankan sepenuhnya melalui VRAM 24GB.

Keunggulan RTX 5090 Tidak Berlaku untuk Semua Model

Karena itu, pernyataan bahwa RTX 5090 mengalahkan M5 Max perlu diberikan konteks.

RTX 5090 memang sangat cepat ketika model dan seluruh kebutuhan memorinya masih berada dalam batas optimal.

Namun, begitu kapasitas VRAM menjadi hambatan, situasinya dapat berbalik.

Hal tersebut juga terlihat dari benchmark independen lain pada local LLM.

Pengujian M5 Max 128GB pada Qwen3.5-122B-A10B menunjukkan laptop Apple mampu menjalankan model sekitar 70GB secara langsung melalui Unified Memory.

Pada model lebih kecil seperti Qwen3.5 27B, RTX 5090 kelas desktop juga memperlihatkan keunggulan besar dalam prompt processing dan generation.

Pola umumnya cukup jelas.

GPU NVIDIA unggul dalam kecepatan ketika data dapat ditempatkan pada memori GPU yang cepat.

Apple unggul dalam fleksibilitas kapasitas ketika model membutuhkan memori sangat besar.

Benchmark Tidak Sepenuhnya Apples-to-Apples

Ada hal lain yang penting sebelum menarik kesimpulan.

Tidak semua pengujian menggunakan software backend yang identik.

Pada pengujian Qwen3 4B dengan context sangat panjang, perangkat Windows menjalankan LM Studio. M5 Max menggunakan MLX yang dioptimalkan khusus untuk Apple Silicon.

Perbedaan software dapat memengaruhi hasil.

Backend inferensi, versi aplikasi, format model, metode kuantisasi, dan optimasi hardware bisa mengubah jumlah token per detik.

Karena itu, angka benchmark sebaiknya dipahami sebagai gambaran performa pada konfigurasi tertentu.

Hasil tersebut bukan ukuran absolut bahwa satu arsitektur selalu lebih cepat dalam semua kondisi.

Pengujian yang menggunakan llama.cpp pada kedua platform memberikan perbandingan yang lebih dekat. Pada model yang muat dalam VRAM, RTX 5090 tetap menunjukkan keunggulan.

Prompt Processing dan Token Generation Itu Berbeda

Dua istilah ini penting untuk memahami hasil benchmark.

Prompt processing terjadi ketika model membaca informasi awal.

Sebagai contoh, pengguna memberikan dokumen panjang, kode program, atau percakapan sebelumnya.

AI harus memproses semua informasi tersebut sebelum menghasilkan jawaban.

Semakin panjang input, semakin besar pekerjaan yang harus dilakukan.

Sementara itu, token generation adalah proses menghasilkan output satu token demi satu token.

Angka ini lebih mudah dirasakan pengguna saat melakukan percakapan.

Jika generation speed hanya 10 token per detik, teks akan muncul relatif perlahan.

Jika mencapai 100 token per detik atau lebih, respons terasa sangat cepat.

Sebuah perangkat bisa unggul dalam prompt processing tetapi tidak selalu memiliki selisih yang sama pada generation.

Karena itu, satu angka benchmark saja belum cukup untuk menentukan perangkat AI terbaik.

Context Length Bisa Menghabiskan Memori dengan Cepat

Context length menjadi salah satu faktor paling penting dalam benchmark terbaru.

Semakin panjang konteks, semakin banyak informasi yang dapat dipertahankan oleh model dalam satu sesi.

Untuk chatbot sederhana, context yang sangat besar mungkin tidak selalu diperlukan.

Namun, kebutuhan berbeda muncul pada coding assistant, analisis dokumen, penelitian, dan agentic workflow.

AI bisa diminta membaca seluruh repository kode.

Model juga bisa menerima beberapa dokumen sekaligus.

Dalam kondisi tersebut, penggunaan memory untuk KV cache dapat meningkat secara signifikan.

Inilah yang terjadi ketika Qwen3 4B diuji pada context 262K.

Modelnya sendiri relatif kecil.

Namun, kebutuhan memory dari context yang sangat panjang membuat VRAM 24GB RTX 5090 hampir penuh.

M5 Max memiliki ruang lebih besar sehingga mampu menangani situasi tersebut dengan lebih baik.

RTX 5090 Cocok untuk Model AI Menengah

Jika pengguna lebih banyak menjalankan model yang muat dalam 24GB VRAM, RTX 5090 Laptop menjadi pilihan yang sangat menarik.

Model sekitar 12B hingga kelompok 20B atau konfigurasi MoE tertentu dapat memperoleh keuntungan dari performa CUDA.

Qwen3.6 35B A3B juga menarik karena menggunakan desain Mixture-of-Experts.

Jumlah parameter totalnya besar, tetapi hanya sebagian parameter yang aktif untuk setiap token.

Karakteristik tersebut membuat kebutuhan komputasinya berbeda dibandingkan dense model dengan jumlah parameter serupa.

Bagi programmer, peneliti, atau kreator yang mengejar respons cepat dari local AI, performa RTX 5090 dapat menjadi keuntungan besar.

Apalagi jika aplikasi yang digunakan memang mempunyai optimasi CUDA yang matang.

M5 Max Menarik untuk Model AI Berukuran Besar

Pengguna M5 Max memiliki prioritas berbeda.

Keunggulan terbesarnya bukan selalu menjadi perangkat dengan token generation tercepat.

Kekuatan utamanya adalah kemampuan menampung model besar pada satu laptop.

Unified Memory 128GB membuka kemungkinan menjalankan model dengan kebutuhan memori yang jauh melewati GPU laptop kelas konsumen.

Apple sendiri memosisikan M5 Max sebagai chip untuk pekerjaan AI lokal.

Perusahaan menyebut M5 Max membawa Neural Accelerator pada GPU dan mendukung Unified Memory hingga 128GB dengan bandwidth maksimum 614GB/s.

Untuk pengguna yang ingin bereksperimen dengan model 70B, 100B, atau lebih besar dalam kuantisasi tertentu, kapasitas memori tersebut dapat lebih penting daripada kecepatan mentah.

Kapasitas Memori Bisa Lebih Penting dari GPU Tercepat

Benchmark ini memberikan pelajaran penting mengenai hardware AI.

GPU tercepat tidak selalu menjadi perangkat terbaik untuk setiap model.

Pertama-tama, model harus dapat ditempatkan dalam memori.

Jika model dan context tidak muat, keunggulan komputasi GPU dapat berkurang karena proses offloading.

Situasinya mirip dengan memiliki mesin kendaraan sangat bertenaga tetapi jalur suplai bahan bakarnya terbatas.

RTX 5090 memiliki bandwidth GDDR7 hingga 896GB/s, lebih tinggi daripada bandwidth maksimum Unified Memory M5 Max sebesar 614GB/s.

Namun, kapasitas M5 Max dapat mencapai 128GB.

RTX 5090 Laptop hanya mempunyai VRAM 24GB.

Keduanya mempunyai keunggulan yang berbeda.

RTX 5090 Laptop Berbeda dengan RTX 5090 Desktop

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah nama produknya.

RTX 5090 Laptop GPU bukan RTX 5090 versi desktop yang dipasang ke dalam laptop.

Spesifikasinya berbeda.

RTX 5090 Laptop memiliki 24GB GDDR7 dan 10.496 CUDA Core.

Karena itu, hasil benchmark ini tidak boleh langsung digunakan untuk menyimpulkan performa RTX 5090 desktop.

GPU desktop memiliki konfigurasi hardware dan kapasitas memori yang berbeda.

Sistem desktop juga dapat menggunakan pendinginan serta power budget jauh lebih besar.

Artikel benchmark ini secara khusus membahas RTX 5090 Laptop GPU di Razer Blade 18 melawan M5 Max pada MacBook Pro 16 inci.

Laptop AI Terbaik Bergantung pada Kebutuhan

Jika melihat keseluruhan hasil, tidak ada satu jawaban yang berlaku bagi semua pengguna.

RTX 5090 Laptop lebih menarik bagi pengguna yang mengutamakan kecepatan.

Dengan syarat, model dan kebutuhan context dapat ditempatkan dalam kapasitas VRAM yang tersedia.

Ekosistem CUDA juga memberikan keuntungan bagi berbagai tool AI yang sudah memiliki optimasi NVIDIA.

Sebaliknya, M5 Max cocok bagi pengguna yang lebih mementingkan kapasitas.

Unified Memory hingga 128GB memungkinkan satu laptop menangani model yang tidak dapat dimuat sepenuhnya pada VRAM 24GB.

Pilihan akhirnya bergantung pada jenis pekerjaan.

Developer yang rutin menggunakan model AI menengah mungkin lebih merasakan keuntungan RTX 5090.

Peneliti atau pengguna local LLM besar dapat memperoleh manfaat lebih besar dari M5 Max.

Jangan Hanya Melihat Angka Tokens per Second

Tokens per second memang penting.

Namun, pengguna tidak sebaiknya menjadikannya satu-satunya parameter saat membeli laptop untuk AI.

Ada beberapa faktor lain yang perlu diperhatikan.

Kapasitas memory menentukan model yang dapat dijalankan.

Context length menentukan seberapa banyak informasi dapat diproses dalam satu sesi.

Software backend menentukan seberapa efektif hardware digunakan.

Kuantisasi juga berpengaruh terhadap ukuran model, performa, serta kualitas output.

Kemudian ada konsumsi daya, suhu, kebisingan kipas, portabilitas, sistem operasi, dan dukungan software.

Semua elemen tersebut dapat menghasilkan pengalaman yang berbeda meski angka benchmark terlihat sangat tinggi.

RTX 5090 vs M5 Max Punya Kekuatan Berbeda

Hasil pengujian RTX 5090 vs M5 Max akhirnya menunjukkan dua pendekatan hardware AI yang berbeda.

RTX 5090 Laptop mengandalkan performa GPU diskret, VRAM GDDR7 berkecepatan tinggi, dan ekosistem CUDA.

M5 Max mengandalkan integrasi CPU-GPU serta Unified Memory berkapasitas besar.

Pada Gemma 4 12B, Qwen3.5 27B, dan Qwen3.6 35B A3B yang dapat dijalankan secara optimal, RTX 5090 mampu memimpin dalam prompt processing serta token generation. Dalam rangkaian benchmark tersebut, keunggulannya dilaporkan mencapai 133 persen pada pengujian tertentu.

Situasi berubah ketika memory menjadi faktor pembatas.

Pada Qwen3 4B dengan context 262K, RTX 5090 turun hingga sekitar 25,28 token per detik. M5 Max mencapai sekitar 181,40 token per detik.

Untuk Qwen3.5 122B, M5 Max 128GB bahkan dapat menjalankan model dengan penggunaan sekitar 94GB memory dan menghasilkan 47,4 token per detik.

Jadi, kemenangan RTX 5090 bukan kemenangan tanpa syarat.

RTX 5090 vs M5 Max lebih tepat dilihat sebagai pertarungan antara kecepatan GPU dan kapasitas memori.

Jika model muat dalam VRAM, RTX 5090 Laptop dapat menjadi pilihan sangat cepat.

Jika ukuran model atau context membutuhkan memori puluhan gigabyte, M5 Max memiliki keunggulan yang sulit ditandingi laptop GPU 24GB.

Baca juga : Stonks-9800 Batal Rilis di PS5, Sony Disorot

Stonks-9800 Batal Rilis di PS5, Sony Disorot

Stonks-9800 batal rilis di PS5 setelah developer Ternox Games mengungkap bahwa perjanjian developer dan publisher mereka dengan Sony PlayStation dihentikan. Keputusan tersebut menjadi perhatian karena menurut pihak Ternox, mereka tidak mendapatkan penjelasan mengenai alasan penghentian kerja sama tersebut.

Dampaknya tidak hanya mengenai rencana perilisan STONKS-9800. Sebanyak 13 game yang sebelumnya sudah tersedia di PlayStation Store juga dijadwalkan ditarik setelah 23 Agustus 2026. Ternox Games mengatakan telah mencoba menghubungi PlayStation Support, tetapi belum memperoleh jawaban yang dianggap menjelaskan situasi tersebut.

Situasi ini menjadi semakin menarik karena STONKS-9800 sendiri mendapat respons cukup kuat dari pemain PC. Game simulasi pasar saham bernuansa Jepang era 1980-an itu telah tersedia melalui Early Access di Steam sejak Juli 2023 dan masih terus dikembangkan menuju versi penuh.

Untuk kabar industri lainnya, pembaca juga dapat mengikuti berita game terbaru yang membahas perkembangan game, konsol, dan teknologi.

Stonks-9800 Batal Rilis di PS5 setelah Perjanjian Dihentikan

Kabar Stonks-9800 batal rilis di PS5 pertama kali disampaikan Ternox Games melalui akun X resminya pada 16 Agustus 2026.

Developer menyebut Sony mengakhiri perjanjian developer dan publisher PlayStation secara sepihak tanpa memberikan alasan. Dampak langsungnya adalah Ternox tidak lagi dapat melakukan self-publishing game mereka di ekosistem PlayStation.

Ruslan Salikov yang berada di balik Ternox Games sebelumnya memiliki rencana membawa STONKS-9800 ke PlayStation 5 pada 2027.

Rencana tersebut cukup serius. Selain versi digital, Ternox berharap dapat menyediakan edisi fisik untuk PS5.

Namun, setelah perjanjian dengan Sony berakhir, rencana tersebut tidak dapat dilanjutkan.

Ternox masih menyisakan sedikit harapan bahwa keputusan Sony dapat dipertimbangkan kembali. Developer juga meminta komunitas membantu menyebarkan informasi mengenai kasus tersebut.

Pernyataan langsung mengenai perkembangan ini dapat dilihat melalui akun X Ternox Games.

PlayStation Support Disebut Belum Memberikan Penjelasan

Persoalan utama bagi Ternox bukan hanya penghentian perjanjian.

Developer juga mempertanyakan alasan di balik keputusan tersebut.

Ternox menyatakan sudah mencoba menyampaikan argumen kepada PlayStation Support dan menghubungi mereka melalui email. Namun, menurut pengakuan developer, komunikasi tersebut belum menghasilkan penjelasan yang jelas.

Hingga 18 Agustus 2026, laporan dari VGC, GameSpot, dan Automaton sama-sama belum mencantumkan penjelasan publik dari Sony mengenai penyebab spesifik dihentikannya perjanjian dengan Ternox Games. Karena itu, alasan sebenarnya belum dapat dipastikan.

Hal ini penting untuk dibedakan.

Informasi bahwa Sony menghentikan perjanjian berasal dari pernyataan developer. Namun, penyebab di balik keputusan tersebut belum mendapatkan konfirmasi langsung dari Sony.

Dengan demikian, berbagai dugaan yang muncul di internet belum dapat dianggap sebagai alasan resmi.

Bukan Hanya Stonks-9800, Ada 13 Game yang Akan Hilang

Dampak penghentian kerja sama tersebut lebih luas daripada pembatalan satu game.

Ternox Games mengatakan 13 judul yang sudah tersedia di PlayStation Store dijadwalkan dihapus setelah 23 Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, Automaton melaporkan 10 game dirilis sendiri oleh Ternox selama sekitar lima tahun, sedangkan tiga lainnya dipindahkan ke akun publisher Ternox melalui kolaborasi dengan penerbit lain.

Game yang disebut terdampak adalah:

  • Nexoria: Dungeon Rogue Heroes
  • Finger Fitness
  • Retro Highway
  • Unichrome: A 1-Bit Unicorn Adventure
  • O-VOID: Console Edition
  • Run & Jump Guy
  • Scrap Divers
  • Fox’s Zen House
  • Boned Again: Survivors
  • Dungeonloop
  • IN-VERT
  • Taimumari: Complete Edition
  • Bullet Beat

Daftar tersebut sesuai dengan game yang diumumkan Ternox serta dilaporkan VGC.

Ternox kemudian meminta maaf kepada developer lain yang gamenya diterbitkan melalui perusahaan tersebut.

Ruslan merasa keputusan itu turut memengaruhi karya developer lain yang sebelumnya mempercayakan proses publishing kepada Ternox Games. Namun, ia mengaku tidak memiliki banyak pilihan setelah perjanjian PlayStation dihentikan.

Penghapusan Game Dijadwalkan setelah 23 Agustus

Batas waktu menjadi perhatian tersendiri bagi pemain PlayStation.

Menurut pengumuman Ternox, game-game tersebut dijadwalkan tidak lagi tersedia untuk pembelian melalui PlayStation Store setelah 23 Agustus.

Developer kemudian membuat unggahan untuk memperlihatkan sejumlah judul yang akan terdampak. Pemain yang memang tertarik dengan game tersebut disarankan memeriksanya sebelum masa penjualan berakhir.

Namun, penghapusan dari toko digital dan hilangnya akses terhadap game yang sudah dibeli merupakan dua persoalan berbeda.

Informasi yang diumumkan Ternox saat ini berfokus pada delisting dari PlayStation Store. Karena itu, tidak tepat menyimpulkan bahwa game yang telah dibeli otomatis akan hilang dari akun pemain.

Detail lebih lanjut mengenai akses pemilik lama masih perlu menunggu informasi tambahan dari pihak terkait.

STONKS-9800 Sudah Berada di Steam sejak 2023

Meski versi PlayStation menghadapi masalah, perjalanan STONKS-9800 di PC tetap berlanjut.

Game tersebut masuk Steam Early Access pada 17 Juli 2023. Pemain berperan sebagai pebisnis di pasar saham Jepang dengan atmosfer era 1980-an dan 1990-an.

Konsepnya bukan hanya membeli dan menjual saham.

Pemain dapat mendapatkan dividen, memantau pergerakan harga, membeli properti dan kendaraan, menjalankan perusahaan, hingga menentukan berbagai keputusan yang berpengaruh terhadap kehidupan karakter.

Elemen visual bergaya anime retro menjadi salah satu identitas utama game tersebut.

Berdasarkan halaman STONKS-9800 di Steam, game ini saat pengecekan memiliki sekitar 95 persen ulasan positif dari lebih dari 3.000 review pengguna.

Angka tersebut menunjukkan penerimaan pemain PC relatif kuat.

VGC juga melaporkan penjualan STONKS-9800 telah mencapai 100.000 kopi pada Maret 2026.

Versi Penuh STONKS-9800 Masih Ditargetkan 2026

Status Early Access bukan berarti pengembangan STONKS-9800 berhenti.

Ternox masih menargetkan versi penuh diluncurkan pada 2026.

Pada halaman Steam, developer menjelaskan bahwa versi final direncanakan mencakup berbagai fitur dari roadmap sekaligus menghadirkan Story Mode. Saat ini pemain sudah dapat menggunakan Free Mode dan CEO Mode.

Developer juga terus melakukan pembaruan selama masa Early Access.

Artinya, pembatalan PS5 tidak sama dengan pembatalan proyek STONKS-9800 secara keseluruhan.

Game tetap tersedia di PC dan pengembangannya masih berjalan.

Masalah utama saat ini hanya menyangkut hubungan Ternox dengan platform PlayStation.

STONKS-9800 Masih Direncanakan Hadir di Xbox dan Switch

Kegagalan membawa game ke PS5 juga tidak menghentikan rencana console port lainnya.

Ternox menyatakan masih berniat membawa STONKS-9800 menuju Nintendo Switch dan Xbox.

Developer juga ingin mencari kemungkinan menghadirkan versi fisik untuk PC dan Nintendo Switch.

Langkah tersebut menjadi alternatif setelah rencana edisi fisik PS5 tidak dapat diteruskan.

Sebelumnya, Ternox berharap dapat merilis versi PS5 pada 2027 sekaligus menyediakan disc sebelum perubahan besar pada distribusi fisik PlayStation berlaku.

Sony telah mengumumkan bahwa produksi disc untuk game PlayStation baru akan dihentikan mulai Januari 2028 sebagai bagian dari pergeseran menuju distribusi digital.

Karena itu, target rilis fisik 2027 memang memiliki batas waktu yang cukup jelas.

Apakah Stonks-9800 Batal Rilis di PS5 karena Shovelware?

Pertanyaan mengenai alasan penghentian perjanjian kemudian memunculkan berbagai spekulasi.

Beberapa media gaming mengaitkan waktunya dengan upaya PlayStation memperketat pengawasan terhadap game yang dinilai sebagai shovelware atau produk berkualitas rendah yang dirilis terutama untuk mengejar trophy dengan usaha minimal.

Namun, hubungan tersebut belum terbukti.

GameSpot bahkan mencatat STONKS-9800 sendiri tidak terlihat cocok dengan gambaran tersebut karena penerimaannya di Steam cukup positif.

Karena Sony belum menjelaskan alasan spesifiknya kepada publik, tidak ada dasar kuat untuk menyebut aturan shovelware sebagai penyebab penghentian kontrak Ternox.

Spekulasi lain juga muncul setelah Ternox sebelumnya sempat bercanda mengenai rencana Sony beralih dari disc fisik.

Namun, VGC menegaskan tidak terdapat bukti bahwa unggahan tersebut mempunyai hubungan dengan penghentian perjanjian developer dan publisher.

Jadi, untuk saat ini jawaban yang paling akurat tetap sama: alasannya belum diketahui.

Situasi Ini Jadi Sorotan bagi Developer Indie

Kasus Ternox juga kembali membuka pembicaraan mengenai posisi developer indie di toko game digital.

Bagi studio kecil, akses menuju sebuah platform bukan hanya berkaitan dengan penjualan.

Developer harus menjalani proses registrasi, sertifikasi, publishing, pembaruan game, hingga komunikasi teknis dengan pemilik platform.

Ketika akses tersebut dihentikan, dampaknya dapat mengenai beberapa proyek sekaligus.

Kasus Ternox menunjukkan hal tersebut secara langsung. Bukan hanya STONKS-9800 yang kehilangan rencana perilisan PS5, tetapi katalog lama yang berada di bawah akun publisher mereka juga ikut terdampak.

Terlebih, beberapa game tersebut bukan sepenuhnya proyek milik Ternox.

Ada developer lain yang menggunakan Ternox sebagai publisher untuk membawa game mereka menuju PlayStation.

Karena itu, Ruslan menyampaikan permintaan maaf kepada developer yang bekerja sama dengannya.

Masa Depan STONKS-9800 Tidak Berhenti di PlayStation

Kabar Stonks-9800 batal rilis di PS5 tentu menjadi pukulan bagi Ternox Games dan pemain yang menunggu versi PlayStation.

Rencana membawa game tersebut ke PS5 pada 2027 kini dihentikan. Selain itu, 13 game lama Ternox juga dijadwalkan keluar dari PlayStation Store setelah 23 Agustus.

Namun, kondisi tersebut tidak berarti masa depan STONKS-9800 berakhir.

Game masih aktif di Steam, mempunyai ribuan ulasan pengguna, dan tetap ditargetkan menuju versi penuh. Ternox juga masih berencana mengembangkan versi Nintendo Switch dan Xbox.

Pertanyaan terbesar sekarang justru berada pada pihak Sony.

Belum ada penjelasan publik mengenai alasan khusus penghentian perjanjian dengan Ternox Games. Developer sendiri masih berharap keputusan tersebut dapat ditinjau ulang.

Selama belum muncul keterangan baru, berbagai dugaan mengenai penyebab kasus ini harus diperlakukan sebagai spekulasi.

Bagi pemain, perkembangan menjelang 23 Agustus akan menjadi bagian yang paling penting untuk diperhatikan. Bagi Ternox, fokus berikutnya adalah melanjutkan STONKS-9800 di platform lain sambil menunggu apakah masih ada peluang untuk kembali ke ekosistem PlayStation.

Baca Juga : iPhone XR Masih Populer di 2026, Worth It atau Cuma Gengsi?

iPhone XR Masih Populer di 2026, Worth It atau Cuma Gengsi?

iPhone XR masih populer di 2026 meskipun usianya sudah hampir delapan tahun. Fenomena ini cukup menarik. Pasalnya, smartphone Android baru di kelas harga yang sama sudah menawarkan berbagai teknologi yang jauh lebih modern.

Layar dengan refresh rate tinggi, kapasitas penyimpanan besar, USB-C, baterai lebih lega, hingga kamera lebih banyak kini mudah ditemukan pada HP Android kelas menengah.

Namun, iPhone XR tetap muncul di pasar smartphone bekas Indonesia. Peminatnya pun belum benar-benar hilang.

Pertanyaannya, apa yang sebenarnya membuat iPhone keluaran 2018 ini tetap menarik? Apakah performanya memang masih cukup bagus, atau kekuatan merek Apple membuat kekurangannya lebih mudah dimaafkan?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana soal spesifikasi.

Mengapa iPhone XR Masih Populer di 2026?

Apple memperkenalkan iPhone XR pada September 2018 bersama iPhone XS dan XS Max. Perangkat ini menggunakan chipset A12 Bionic dan layar Liquid Retina HD berukuran 6,1 inci. Resolusinya 1792 x 828 piksel dengan panel LCD IPS. Di bagian belakang hanya terdapat satu kamera utama 12 MP.

Spesifikasi tersebut memang sudah terlihat sederhana jika dibandingkan dengan smartphone keluaran 2026.

Namun, daya tarik iPhone XR tidak hanya berasal dari hardware.

Nama iPhone mempunyai nilai tersendiri bagi banyak konsumen. Apple sudah lama membangun citra produknya sebagai perangkat premium. Akibatnya, iPhone generasi lama sekalipun masih membawa sebagian persepsi tersebut.

Seseorang yang memiliki anggaran sekitar Rp2 juta hingga Rp4 juta sekarang memiliki dua pilihan menarik.

Ia bisa membeli Android baru dengan teknologi yang lebih modern. Pilihan lainnya adalah mengambil iPhone bekas yang pernah berada di kelas premium.

Di sinilah keputusan pembelian mulai dipengaruhi lebih dari sekadar angka spesifikasi.

Faktor Gengsi Memang Ada, tetapi Bukan Satu-satunya Alasan

Sulit menyangkal bahwa status merek ikut membantu iPhone XR masih populer di 2026.

Logo Apple tetap mudah dikenali. Bagi sebagian konsumen, mempunyai iPhone juga memberikan pengalaman berbeda dibanding memakai smartphone lain.

Namun, mengatakan seluruh pengguna XR membelinya hanya karena gengsi juga terlalu sederhana.

Ada beberapa alasan yang cukup masuk akal.

Sebagian pengguna menyukai karakter hasil kamera iPhone. Ada pula yang sudah nyaman dengan iOS, AirDrop, iCloud, FaceTime, atau ekosistem Apple lainnya. Pengguna yang sebelumnya memiliki MacBook, AirPods, atau perangkat Apple lain juga mungkin lebih nyaman tetap menggunakan iPhone.

Selain itu, A12 Bionic belum otomatis menjadi chipset yang tidak berguna hanya karena sudah tua.

Untuk penggunaan ringan seperti WhatsApp, Instagram, streaming video, navigasi, mobile banking, dan media sosial, performanya masih bisa terasa memadai jika kondisi perangkat sehat.

Jadi, persoalannya bukan apakah iPhone XR masih dapat digunakan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah harganya masih sepadan dengan usia dan keterbatasannya.

Harga iPhone XR Bekas Sekarang Sangat Bervariasi

Pasar bekas membuat situasi semakin menarik.

Penelusuran harga pada Agustus 2026 menunjukkan rentang harga iPhone XR yang sangat lebar. Listing di marketplace dapat ditemukan mulai kisaran Rp1 jutaan untuk unit dengan kondisi atau batasan tertentu. Sementara unit yang diklaim lebih baik dapat berada di kisaran Rp2 juta hingga Rp4 juta.

Di OLX wilayah Jakarta, misalnya, terdapat listing XR 64 GB sekitar Rp3,5 juta dan 128 GB sekitar Rp3,9 juta saat pengecekan dilakukan. Harga tersebut tentu merupakan harga penjual dan bukan patokan nilai pasar mutlak.

Perbedaan harga yang besar itu menunjukkan satu hal penting.

Membeli iPhone XR bekas tidak cukup hanya melihat kapasitas penyimpanan.

Kondisi baterai, IMEI, Face ID, kamera, layar, riwayat servis, jaringan seluler, bodi, serta status iCloud jauh lebih penting.

Unit murah belum tentu memberikan biaya kepemilikan yang murah.

Jangan Tertipu Battery Health 100 Persen

Baterai menjadi salah satu bagian yang perlu diperhatikan serius.

Tidak ada iPhone XR produksi baru reguler yang keluar dari lini peluncuran 2018 dan tiba-tiba menjadi perangkat fresh pada 2026. Sebagian besar unit di pasar bekas tentu sudah melewati masa penggunaan yang panjang atau pernah mendapatkan penggantian komponen.

Karena itu, angka Battery Health 100% tidak seharusnya menjadi satu-satunya acuan.

Apple sendiri menjelaskan bahwa pada iPhone XR dan model yang lebih baru, pengguna dapat memeriksa apakah baterai pernah diganti melalui bagian Settings > General > About. Jika perangkat pernah diperbaiki, informasi terkait komponen dapat muncul pada bagian Parts and Service History.

Apple juga memperingatkan bahwa informasi kesehatan baterai mungkin tidak akurat jika perangkat tidak dapat memverifikasi baterai yang terpasang sebagai baterai Apple asli.

Artinya, angka 100% tidak selalu cukup untuk memastikan kondisi sebenarnya.

Pembeli tetap perlu menguji ketahanan baterai secara langsung.

Layar iPhone XR Mulai Terasa Ketinggalan

Salah satu bagian yang paling mudah menunjukkan umur XR adalah layarnya.

Apple membekali perangkat ini dengan panel Liquid Retina HD LCD 6,1 inci beresolusi 1792 x 828 piksel dengan kerapatan 326 ppi dan tingkat kecerahan tipikal hingga 625 nit.

Pada masanya, layar tersebut mampu memberikan pengalaman yang nyaman.

Namun, standar industri sudah berubah.

Banyak smartphone Android modern di kelas harga terjangkau sekarang menawarkan panel dengan refresh rate tinggi. Beberapa bahkan sudah menggunakan AMOLED dengan tingkat kecerahan lebih tinggi.

Bagi pengguna yang terbiasa dengan 90Hz atau 120Hz, perpindahan ke layar XR dapat terasa berbeda.

Animasi dan scrolling memang tetap mendapat keuntungan dari optimasi iOS. Namun, optimasi software tidak dapat mengubah keterbatasan fisik panel yang digunakan.

Di sinilah penting membedakan antara masih nyaman dan masih modern.

Keduanya bukan hal yang sama.

iPhone XR Tidak Mendapat iOS 26

Faktor software menjadi catatan yang jauh lebih penting pada 2026.

Daftar kompatibilitas resmi Apple untuk iOS 26 saat ini dimulai dari iPhone 11, iPhone 11 Pro, iPhone 11 Pro Max, dan iPhone SE generasi kedua, kemudian berlanjut ke generasi yang lebih baru. iPhone XR tidak berada dalam daftar tersebut.

Artinya, salah satu keunggulan terbesar yang selama ini sering digunakan untuk membela iPhone lama mulai berkurang.

XR memang menikmati periode dukungan sistem operasi yang panjang.

Namun, pembeli pada 2026 perlu memahami bahwa perangkat ini sudah berada di luar jalur upgrade utama iOS 26.

Hal tersebut belum membuat iPhone XR langsung tidak berguna.

Aplikasi juga tidak otomatis berhenti bekerja dalam satu malam.

Akan tetapi, semakin lama perangkat berada di luar dukungan sistem operasi terbaru, semakin besar kemungkinan fitur atau aplikasi baru pada masa depan membutuhkan versi iOS yang lebih tinggi.

Untuk pengguna yang berencana memakai smartphone selama tiga atau empat tahun ke depan, faktor ini layak mendapat perhatian serius.

Kamera Tunggal Masih Bisa Dipakai

Kamera menjadi salah satu alasan iPhone XR tetap mempunyai penggemar.

Apple memasang kamera Wide 12 MP di bagian belakang perangkat. Kamera tersebut mendukung optical image stabilization serta berbagai fitur fotografi komputasional yang dirancang untuk chipset A12 Bionic.

Untuk foto pada kondisi pencahayaan yang baik, hasilnya masih dapat terlihat menarik.

Video juga tetap menjadi salah satu bagian yang cukup nyaman untuk penggunaan media sosial.

Namun, smartphone modern sudah berkembang jauh.

Perangkat baru kini menawarkan mode malam yang lebih matang, kamera ultrawide, sensor beresolusi tinggi, stabilisasi lebih baik, serta pemrosesan gambar yang lebih baru.

Jadi, kamera XR masih usable, tetapi tidak lagi mempunyai keunggulan teknologi yang sama seperti ketika pertama kali dirilis.

Risiko Membeli iPhone Bekas Jangan Diremehkan

Harga murah sering membuat calon pembeli langsung tertarik.

Padahal, kondisi perangkat merupakan faktor yang jauh lebih menentukan.

Apple sendiri memiliki panduan khusus bagi konsumen yang ingin membeli iPhone bekas. Perusahaan menyarankan calon pembeli memeriksa kerusakan fisik, kondisi baterai, riwayat komponen dan servis, serta memastikan Activation Lock tidak aktif.

Apple bahkan secara tegas menyarankan agar konsumen tidak membeli perangkat yang masih menampilkan iPhone Locked to Owner karena perangkat tersebut masih terkait dengan akun pemilik sebelumnya.

Hal tersebut sangat relevan untuk XR.

Semakin tua usia sebuah perangkat, semakin besar kemungkinan unit pernah dibongkar atau mengalami penggantian komponen.

Karena itu, jangan hanya terpancing oleh tampilan bodi yang mulus.

Kondisi internal jauh lebih penting.

Harga Murah Belum Tentu Berarti Value Terbaik

Kesalahan yang cukup umum adalah melihat harga peluncuran sebagai ukuran nilai.

Misalnya, seseorang melihat iPhone yang dahulu dijual dengan harga tinggi sekarang hanya beberapa juta rupiah.

Secara psikologis, kondisi tersebut terasa seperti mendapatkan produk mahal dengan diskon besar.

Padahal bukan begitu cara menilai barang elektronik lama.

Pembeli sebenarnya mendapatkan smartphone keluaran 2018 pada harga tahun 2026.

Nilainya harus dibandingkan dengan produk lain yang bisa dibeli menggunakan uang yang sama sekarang.

Jika Android baru memberikan layar lebih modern, baterai lebih besar, garansi resmi, USB-C, serta dukungan software yang lebih panjang, seluruh manfaat tersebut perlu ikut dihitung.

Begitu pula sebaliknya.

Jika seseorang membutuhkan iOS dengan biaya serendah mungkin dan menerima seluruh keterbatasannya, XR mungkin masih mempunyai tempat.

Jadi, Apakah iPhone XR Masih Worth It pada 2026?

Jawabannya sangat bergantung pada harga dan kebutuhan.

Untuk penggunaan dasar, iPhone XR masih dapat berfungsi. Chip A12 Bionic, kamera 12 MP, Face ID, dan ekosistem iOS masih membuatnya cukup nyaman bagi kelompok pengguna tertentu. Spesifikasi resmi Apple juga menunjukkan perangkat ini mempunyai wireless charging Qi dan dukungan pengisian cepat.

Namun, gambarnya berubah jika pertanyaannya menjadi:

Apakah iPhone XR adalah smartphone terbaik yang bisa dibeli dengan uang tersebut pada 2026?

Jawabannya jauh lebih sulit.

Usia perangkat sudah hampir delapan tahun. Dukungan iOS terbaru sudah berhenti sebelum iOS 26. Kondisi baterai serta riwayat servis berbeda pada setiap unit. Layarnya juga berasal dari standar teknologi beberapa generasi sebelumnya.

Karena itu, XR paling masuk akal untuk pengguna yang memang ingin mencoba ekosistem iPhone dengan biaya rendah.

Bukan untuk orang yang mencari teknologi paling baru.

Popularitas iPhone XR Membuktikan Kuatnya Branding Apple

Pada akhirnya, alasan iPhone XR masih populer di 2026 merupakan gabungan berbagai faktor.

Gengsi memang mempunyai peran. Namun, itu bukan satu-satunya penyebab.

Kekuatan merek Apple, kenyamanan iOS, desain yang masih mudah dikenali, karakter kamera, ekosistem, dan pasar barang bekas yang aktif ikut menjaga daya tarik XR.

Masalah muncul ketika citra merek membuat pembeli mengabaikan usia perangkat.

iPhone XR tidak tiba-tiba menjadi buruk hanya karena sudah tua. Sebaliknya, logo Apple juga tidak otomatis membuatnya menjadi pilihan paling bernilai.

Jika mendapat unit sehat dengan harga sangat menarik, XR masih bisa menjadi smartphone sekunder atau pintu masuk murah menuju iOS.

Namun, jika harganya sudah mendekati smartphone baru yang jauh lebih modern, konsumen perlu berpikir dua kali.

Pada 2026, pertanyaannya bukan lagi “apakah iPhone XR masih bisa dipakai?”

Jawabannya jelas masih bisa.

Pertanyaan yang lebih tepat adalah berapa harga yang pantas dibayar untuk smartphone berusia hampir delapan tahun tersebut?

Baca  juga : Harga GTA VI $79,99, Rockstar Tetap Jaga Harga untuk Gamer

Harga GTA VI $79,99, Rockstar Tetap Jaga Harga untuk Gamer

Harga GTA VI akhirnya menjadi salah satu pembahasan terbesar menjelang perilisan game terbaru Rockstar Games tersebut. Setelah berbagai spekulasi menyebut Grand Theft Auto VI berpotensi membawa harga baru untuk game AAA, Rockstar kini resmi menetapkan harga Standard Edition sebesar US$79,99.

Sementara itu, pemain yang menginginkan konten tambahan dapat memilih GTA VI Ultimate Edition dengan harga US$99,99. Harga tersebut telah tercantum dalam informasi resmi Take-Two serta toko digital PlayStation dan Xbox.

Keputusan tersebut menarik karena selama beberapa tahun muncul perdebatan mengenai apakah game Rayaplay berskala besar seperti GTA VI pantas dijual jauh lebih mahal. Take-Two sendiri sebelumnya berulang kali menekankan bahwa harga sebuah game harus sejalan dengan nilai yang diperoleh konsumen.

Harga GTA VI Standard Akhirnya Ditetapkan US$79,99

Rockstar Games resmi membuka pre-order GTA VI pada 25 Juni 2026. Standard Edition dibanderol US$79,99, sedangkan Ultimate Edition dipasarkan dengan harga US$99,99.

Harga tersebut juga sama pada PlayStation Store Amerika Serikat. Sony mencantumkan GTA VI Standard Edition seharga US$79,99, sedangkan versi Ultimate berada di angka US$99,99.

Microsoft Store juga menampilkan struktur harga yang sama untuk Xbox Series X|S. Bahkan, pemilik Standard Edition nantinya dapat membeli Ultimate Edition Upgrade secara terpisah dengan harga US$20.

Dengan demikian, Rockstar tidak membawa versi reguler GTA VI melewati batas US$80. Namun, harga tersebut tetap berada di atas standar US$69,99 yang selama beberapa tahun banyak digunakan game AAA.

Take-Two Menilai GTA VI Memiliki Value Tinggi

Strauss Zelnick selaku CEO Take-Two Interactive sudah lama dikenal memiliki pandangan bahwa harga sebuah game tidak cukup dinilai dari angka pembeliannya saja.

Menurut pendekatan tersebut, pengalaman yang diterima pemain harus mempunyai nilai lebih besar dibandingkan uang yang mereka keluarkan.

Hal ini menjadi relevan untuk GTA VI. Rockstar dikenal mengembangkan dunia terbuka dalam skala besar serta mempertahankan game mereka dalam jangka waktu panjang.

Take-Two sendiri menggambarkan GTA VI sebagai proyek yang diharapkan menjadi salah satu pendorong utama performa perusahaan pada tahun fiskal 2027. Perusahaan juga memperkirakan periode tersebut dapat mencetak rekor baru untuk Net Bookings mereka.

Namun, menetapkan harga terlalu tinggi tetap membawa risiko.

Tidak semua pemain game Rayaplay yang tertarik dengan GTA VI merupakan penggemar berat franchise tersebut. Harga yang terlalu jauh dari standar industri dapat membuat sebagian konsumen memilih menunggu diskon atau menunda pembelian.

Karena itu, angka US$79,99 terlihat menjadi titik tengah antara menaikkan standar harga dan mempertahankan aksesibilitas bagi konsumen.

Ultimate Edition GTA VI Justru Menarik Minat Penggemar Berat

Hal menarik lainnya datang dari pola pre-order.

Strauss Zelnick mengatakan dalam wawancara CNBC bahwa pemesanan awal GTA VI cenderung lebih banyak mengarah ke versi premium. Ia menilai kondisi tersebut terjadi karena konsumen yang melakukan pre-order pada tahap awal biasanya berasal dari kelompok penggemar paling antusias.

Versi Ultimate dipasarkan US$20 lebih mahal dibandingkan Standard Edition.

Rockstar menjelaskan bahwa Ultimate Edition membawa koleksi tambahan yang tersebar di berbagai bagian perjalanan Jason dan Lucia. Isinya mencakup kendaraan premium, senjata, pakaian, serta beberapa elemen tambahan lainnya.

Strategi tersebut memungkinkan Rockstar mempertahankan harga dasar GTA VI di bawah US$80 sambil tetap menyediakan paket yang lebih mahal untuk penggemar yang menginginkan konten tambahan.

Dengan kata lain, pemain tidak diwajibkan membeli versi termahal untuk mendapatkan game utamanya.

Mengapa Harga GTA VI Menjadi Perhatian Industri Game?

GTA VI bukan sekadar perilisan game biasa.

Grand Theft Auto telah berkembang menjadi salah satu franchise hiburan terbesar di dunia. Take-Two menyebut seri Grand Theft Auto secara keseluruhan telah mencatat lebih dari 470 juta unit sold-in secara global.

Karena skalanya tersebut, keputusan harga GTA VI berpotensi menjadi referensi bagi penerbit besar lainnya.

Apabila konsumen menerima harga US$79,99 tanpa penurunan permintaan yang berarti, semakin banyak publisher dapat mempertimbangkan harga serupa untuk proyek AAA dengan biaya produksi tinggi.

Sebaliknya, jika pemain menolak kenaikan harga, industri mungkin harus mencari strategi berbeda. Publisher dapat menggunakan edisi premium, DLC, layanan berlangganan, atau konten tambahan untuk meningkatkan pendapatan tanpa menaikkan harga dasar terlalu jauh.

Rockstar tampaknya memilih pendekatan pertama secara hati-hati.

Standard Edition naik ke US$79,99. Namun, versi yang mendekati US$100 tetap ditempatkan sebagai pilihan Ultimate bagi pemain yang memang menginginkannya.

Kapan GTA VI Resmi Dirilis?

Grand Theft Auto VI dijadwalkan rilis pada 19 November 2026 untuk PlayStation 5 dan Xbox Series X|S. Rockstar juga sudah mengonfirmasi kedua platform tersebut melalui situs resminya.

Pemain yang melakukan pre-order digital dapat mulai melakukan pre-load pada 12 November 2026. Dengan demikian, file game dapat dipersiapkan sebelum server membuka akses saat hari perilisan.

Untuk saat ini, Rockstar belum mencantumkan PC sebagai platform peluncuran GTA VI. Situs resmi hanya menyebut PS5 dan Xbox Series X|S untuk rilis November 2026.

Rockstar Tidak Hanya Menjual Harga, tetapi Pengalaman

Perdebatan mengenai harga sebuah game sering kali berakhir pada pertanyaan sederhana: apakah kontennya sepadan?

Pada GTA VI, Rockstar memiliki keuntungan besar karena ekspektasi terhadap franchise ini sudah terbentuk selama bertahun-tahun.

Game tersebut akan membawa pemain kembali ke Vice City dalam negara bagian fiktif Leonida. Cerita berpusat pada Jason dan Lucia yang terjebak dalam sebuah konspirasi setelah sebuah pekerjaan tidak berjalan sesuai rencana.

Rockstar juga menggambarkan GTA VI sebagai evolusi Grand Theft Auto yang paling besar dan imersif sejauh ini.

Karena itu, Take-Two tampaknya ingin memastikan pembicaraan mengenai harga tidak menutupi nilai utama yang mereka tawarkan.

Harga tetap lebih tinggi dibandingkan banyak game AAA sebelumnya, tetapi perusahaan tidak membawa Standard Edition langsung ke US$100.

Harga US$79,99 Bisa Menjadi Standar Baru Game AAA?

Kemungkinan tersebut tetap terbuka.

Biaya produksi game modern semakin besar. Dunia yang luas, animasi, teknologi grafis, pengisi suara, pemasaran global, hingga pengembangan selama bertahun-tahun membuat proyek AAA membutuhkan investasi yang besar.

Namun, harga juga mempunyai batas psikologis.

Perbedaan antara US$79,99 dan US$99,99 mungkin hanya sekitar US$20. Namun, bagi konsumen, angka yang mendekati US$100 dapat memberikan persepsi harga yang sangat berbeda.

Strategi GTA VI menunjukkan bagaimana publisher dapat mengatasi masalah tersebut.

Versi dasar Game Rayaplay tetap berada di bawah US$80. Sementara itu, pemain dengan tingkat antusiasme lebih tinggi dapat memilih Ultimate Edition seharga US$99,99.

Jika strategi ini berhasil, model dua tingkat tersebut mungkin semakin sering digunakan untuk perilisan besar lainnya.

Spekulasi mengenai harga GTA VI akhirnya mendapatkan jawaban resmi. Rockstar dan Take-Two menetapkan GTA VI Standard Edition seharga US$79,99, sedangkan Ultimate Edition dijual US$99,99.

Keputusan tersebut menunjukkan Rockstar berani membawa harga game utama mendekati US$80. Namun, perusahaan tetap tidak membawa Standard Edition langsung menuju angka US$100.

Pilihan itu dapat menjadi kompromi yang cukup menarik.

Take-Two mendapatkan ruang untuk menyesuaikan harga dengan skala GTA VI. Di sisi lain, pemain masih memiliki pilihan Standard Edition tanpa harus membayar harga Ultimate.

Menariknya, konsumen yang melakukan pre-order awal justru dilaporkan lebih condong memilih versi premium. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa bagi penggemar GTA paling antusias, harga yang lebih mahal tidak selalu menjadi hambatan utama.

Dengan tanggal rilis 19 November 2026 semakin dekat, perhatian berikutnya bukan lagi sekadar berapa harga GTA VI, tetapi apakah pengalaman yang diberikan Rockstar benar-benar mampu memenuhi ekspektasi besar yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun.

FAQ Harga GTA VI

Berapa harga GTA VI Standard Edition?

GTA VI Standard Edition resmi dibanderol US$79,99. Harga tersebut tercantum pada pengumuman Take-Two, PlayStation Store, Xbox Store, dan Rockstar Store.

Berapa harga GTA VI Ultimate Edition?

GTA VI Ultimate Edition dijual dengan harga US$99,99. Versi ini menambahkan berbagai konten premium dibandingkan Standard Edition.

Apakah GTA VI benar-benar berharga lebih dari US$80?

Standard Edition tidak melewati US$80 karena harganya US$79,99. Namun, Ultimate Edition berada di atas angka tersebut dengan harga US$99,99.

Kapan GTA VI dirilis?

Rockstar menjadwalkan GTA VI rilis pada 19 November 2026.

GTA VI tersedia di platform apa saja?

Pada peluncuran yang sudah diumumkan, GTA VI tersedia untuk PlayStation 5 dan Xbox Series X|S.

Apakah GTA VI sudah tersedia untuk PC?

Rockstar belum mengumumkan versi PC sebagai bagian dari peluncuran 19 November 2026. Saat ini platform resmi yang dicantumkan adalah PS5 dan Xbox Series X|S.

Apakah GTA VI Ultimate Edition lebih populer?

Menurut pernyataan Strauss Zelnick dalam wawancara CNBC yang dilaporkan sejumlah media, pre-order awal cenderung lebih banyak menuju edisi premium. Ia mengaitkannya dengan penggemar paling antusias yang biasanya melakukan pemesanan lebih awal.

Baca Juga : Xbox Project Helix Dirumorkan Dukung Game dari Xbox Original

Google Kenalkan reCAPTCHA Gestur Tangan untuk Lawan Bot

Google Kenalkan reCAPTCHA Gestur Tangan untuk Lawan Bot

Google kembali memperbarui pendekatan keamanan digital melalui pengenalan reCAPTCHA gestur tangan. Teknologi ini menjadi perhatian karena membawa metode verifikasi baru yang tidak lagi hanya mengandalkan pilihan gambar, teks, atau tantangan visual seperti yang selama ini sering muncul di berbagai website. Dengan pendekatan berbasis kamera, pengguna dapat diminta menunjukkan tangan dan melakukan gestur tertentu untuk membuktikan bahwa mereka adalah manusia.

Pembaruan ini muncul di tengah meningkatnya aktivitas bot yang semakin canggih. Banyak website menghadapi masalah spam, pendaftaran akun palsu, scraping, penyalahgunaan formulir, hingga percobaan login otomatis. Dalam kondisi seperti ini, sistem verifikasi manusia perlu terus berkembang. reCAPTCHA gestur tangan menjadi salah satu upaya Google untuk memperkuat pertahanan digital tanpa sepenuhnya bergantung pada metode lama yang sering dianggap merepotkan pengguna.

Menurut dokumentasi Google Cloud, sistem ini bekerja dengan menganalisis satu atau lebih video tangan pengguna saat melakukan gestur yang diminta. Video tersebut kemudian diproses untuk mengambil data landmark tangan, termasuk 21 koordinat hand-knuckle. Google menyebut video tidak dikaitkan dengan identitas pengguna, audio tidak direkam, dan video dihapus setelah proses verifikasi selesai.

Cara Kerja reCAPTCHA Gestur Tangan

reCAPTCHA gestur tangan bekerja dengan meminta pengguna mengaktifkan kamera, lalu melakukan gerakan tangan tertentu sesuai instruksi. Sistem kemudian membaca pola gerakan tersebut untuk membedakan aktivitas manusia dengan otomatisasi bot. Pendekatan ini berbeda dari CAPTCHA tradisional yang biasanya meminta pengguna memilih gambar lampu lalu lintas, zebra cross, kendaraan, atau objek tertentu.

Metode baru ini dibuat untuk menjawab tantangan keamanan yang semakin kompleks. Bot modern tidak lagi sederhana. Sebagian bot dapat meniru klik, mengisi formulir, bahkan melewati tantangan visual tertentu. Karena itu, verifikasi berbasis gerakan tangan dianggap dapat menambah lapisan validasi yang lebih sulit ditiru oleh sistem otomatis.

Bagi pengelola website, fitur seperti ini dapat menjadi bagian penting dari strategi keamanan website MOMOPLAY, terutama untuk halaman login, pendaftaran akun, formulir kontak, checkout, dan area lain yang rawan disalahgunakan bot. Namun, penerapannya tetap perlu memperhatikan kenyamanan pengguna agar proses verifikasi tidak terasa terlalu berat.

Google Cloud juga menjelaskan bahwa reCAPTCHA merupakan bagian dari perlindungan terhadap aktivitas online berisiko, termasuk scraping, credential stuffing, account creation abuse, dan fraud digital. Di sisi lain, Google Cloud Fraud Defense diposisikan sebagai evolusi dari reCAPTCHA yang lebih luas untuk mengamankan perjalanan pengguna dari awal hingga akhir.

Alasan Google Mengembangkan Verifikasi Gestur Tangan

Alasan utama pengembangan reCAPTCHA gestur tangan adalah meningkatnya kecanggihan bot dan automasi digital. Website modern tidak hanya berhadapan dengan spam biasa. Banyak serangan kini menargetkan akun pengguna, data pribadi, sistem pembayaran, dan reputasi brand. Ketika bot mampu menjalankan aktivitas seperti manusia, metode verifikasi juga harus ikut berkembang.

CAPTCHA berbasis gambar selama ini membantu banyak website, tetapi tidak selalu nyaman bagi semua pengguna. Sebagian orang merasa tantangan visual terlalu sering muncul, sulit dijawab, atau memperlambat akses. Dengan metode gestur tangan, Google mencoba menawarkan bentuk verifikasi yang berbeda, meskipun tetap memiliki tantangan baru, terutama terkait akses kamera dan kenyamanan pengguna.

Pembaruan ini juga relevan dengan tren keamanan digital yang bergerak ke arah verifikasi lebih adaptif. Artinya, sistem tidak hanya memblokir semua aktivitas mencurigakan secara kasar, tetapi mencoba memahami pola risiko. Jika sebuah aktivitas terlihat aman, verifikasi bisa dibuat lebih ringan. Jika aktivitas mencurigakan, sistem dapat meminta langkah tambahan seperti gestur tangan.

Namun, metode ini belum tentu cocok untuk semua kondisi. Website perlu mempertimbangkan siapa penggunanya, perangkat yang dipakai, dan apakah pengguna memiliki kamera. Untuk sebagian orang, verifikasi berbasis kamera bisa terasa tidak nyaman. Karena itu, opsi alternatif tetap penting.

Privasi dan Penghapusan Data Menjadi Sorotan

Salah satu hal yang langsung menjadi perhatian dari reCAPTCHA gestur tangan adalah privasi. Karena metode ini melibatkan kamera, pengguna wajar bertanya apa saja yang direkam, bagaimana data diproses, dan apakah video disimpan. Google menyatakan bahwa audio tidak direkam, video tidak diasosiasikan dengan identitas pengguna, serta video dihapus setelah proses verifikasi selesai.

Keterangan tersebut penting karena kepercayaan pengguna sangat menentukan keberhasilan teknologi keamanan. Jika pengguna merasa proses verifikasi terlalu invasif, mereka bisa ragu untuk melanjutkan akses. Di sisi lain, pengelola website juga harus mampu menjelaskan alasan penggunaan fitur keamanan seperti ini secara transparan.

Dalam konteks bisnis digital, transparansi menjadi bagian dari perlindungan akun online MOMOPLAY. Pengguna perlu tahu bahwa langkah verifikasi bukan dibuat untuk mempersulit akses, melainkan untuk mengurangi risiko penyalahgunaan sistem oleh bot dan pelaku fraud. Semakin jelas komunikasi yang diberikan, semakin besar peluang pengguna menerima metode verifikasi baru.

Meski Google menyebut data video dihapus setelah proses verifikasi, sebagian pihak tetap menyoroti potensi kekhawatiran privasi karena pengguna harus memberi akses kamera. Beberapa media keamanan siber juga menekankan bahwa metode ini dapat memunculkan perdebatan baru antara kebutuhan melawan bot dan kenyamanan pengguna.

Aksesibilitas dan Pengguna Tanpa Kamera

Tantangan lain dari reCAPTCHA gestur tangan adalah aksesibilitas. Tidak semua pengguna memiliki kamera aktif. Ada juga pengguna yang tidak nyaman memberi izin kamera, menggunakan perangkat lama, atau memiliki keterbatasan fisik tertentu. Jika verifikasi hanya mengandalkan gestur tangan, sebagian pengguna bisa kesulitan masuk ke layanan digital.

Google menyebut pengguna yang tidak dapat menyelesaikan verifikasi gestur tangan karena kebutuhan aksesibilitas tetap dapat menggunakan tantangan visual dan audio seperti CAPTCHA pada umumnya. Google juga menyatakan sedang mengembangkan metode tambahan yang berfokus pada aksesibilitas.

Hal ini penting karena sistem keamanan tidak boleh mengorbankan akses pengguna yang sah. Teknologi MOMOPLAY anti bot harus mampu membedakan antara pengguna manusia yang sah dan aktivitas otomatis berbahaya, tanpa membuat sebagian pengguna merasa tersisih. Oleh karena itu, opsi alternatif perlu tetap tersedia.

Bagi pemilik website, keputusan memakai metode verifikasi baru harus mempertimbangkan pengalaman pengguna secara menyeluruh. Jangan sampai perlindungan yang terlalu ketat justru membuat pengunjung meninggalkan website. Sistem keamanan yang baik harus seimbang antara perlindungan, kecepatan, kenyamanan, dan aksesibilitas.

Dampak bagi Website dan Bisnis Digital

Bagi pemilik website, reCAPTCHA gestur tangan dapat menjadi sinyal bahwa perlindungan dari bot akan semakin serius. Website yang memiliki banyak formulir, halaman login, sistem registrasi, checkout, atau area transaksi perlu mulai memperhatikan kualitas proteksi anti bot. Tanpa perlindungan yang tepat, website bisa menjadi sasaran spam, scraping, penyalahgunaan akun, dan serangan otomatis.

Namun, pemilik website juga perlu bijak. Tidak semua halaman membutuhkan verifikasi berat. Untuk halaman biasa, verifikasi yang terlalu sering bisa mengganggu pengalaman pembaca. Verifikasi sebaiknya diterapkan pada titik yang benar-benar berisiko, seperti login, pendaftaran, pemulihan akun, atau tindakan yang melibatkan data penting.

Dalam strategi digital modern, penggunaan teknologi anti bot MOMOPLAY harus dilihat sebagai bagian dari kualitas layanan. Pengguna ingin merasa aman, tetapi tetap ingin proses yang cepat. Jika sistem keamanan terlalu rumit, pengguna bisa kehilangan kepercayaan. Jika terlalu longgar, website rentan diserang. Keseimbangan inilah yang perlu dijaga.

Google Cloud Fraud Defense sendiri disebut sebagai platform yang lebih luas untuk membantu bisnis memverifikasi legitimasi manusia, bot, dan agen AI dalam interaksi digital. Ini menunjukkan bahwa tantangan keamanan online tidak hanya datang dari bot tradisional, tetapi juga dari bentuk automasi baru yang semakin sulit dibedakan dari manusia.

Pro dan Kontra reCAPTCHA Gestur Tangan

Dari sisi positif, reCAPTCHA gestur tangan dapat membantu meningkatkan akurasi verifikasi manusia. Gestur tangan yang diminta secara langsung bisa menjadi tantangan yang lebih sulit ditiru oleh bot biasa. Metode ini juga dapat mengurangi ketergantungan pada CAPTCHA gambar yang selama ini sering dianggap membingungkan.

Dari sisi lain, penggunaan kamera menimbulkan tantangan baru. Pengguna perlu memberi izin kamera, memastikan pencahayaan cukup, dan melakukan gestur yang diminta. Bagi sebagian orang, proses ini bisa terasa kurang praktis. Selain itu, isu privasi akan tetap menjadi pembahasan penting meskipun Google menyatakan video dihapus setelah proses selesai.

Karena itu, metode ini sebaiknya tidak dilihat sebagai pengganti total semua bentuk CAPTCHA, melainkan sebagai tambahan opsi verifikasi. Website yang memiliki risiko tinggi mungkin lebih membutuhkan metode seperti ini. Sementara website dengan risiko rendah bisa tetap menggunakan metode yang lebih ringan.

Pada akhirnya, keberhasilan fitur ini akan bergantung pada cara implementasi. Jika terlalu sering muncul, pengguna bisa terganggu. Jika hanya muncul saat aktivitas benar-benar berisiko, fitur ini dapat membantu menjaga keamanan tanpa merusak pengalaman pengguna.

 

Google memperkenalkan reCAPTCHA gestur tangan sebagai metode baru untuk membantu membedakan manusia dan bot. Sistem ini menggunakan kamera untuk membaca gestur tangan pengguna, lalu memproses data landmark tangan seperti 21 koordinat hand-knuckle. Google menyatakan video tidak dikaitkan dengan identitas pengguna, audio tidak direkam, dan video dihapus setelah verifikasi selesai.

Teknologi ini menjadi jawaban atas meningkatnya kecanggihan bot, fraud digital, dan penyalahgunaan sistem online. Namun, metode ini juga membawa tantangan baru, terutama terkait privasi, akses kamera, dan aksesibilitas bagi pengguna tertentu.

Bagi pemilik website, pembaruan ini menjadi pengingat bahwa keamanan digital harus terus ditingkatkan. Perlindungan dari bot tidak cukup hanya mengandalkan metode lama. Namun, setiap fitur keamanan tetap harus menjaga keseimbangan antara perlindungan, kecepatan akses, dan kenyamanan pengguna. Jika diterapkan secara tepat, reCAPTCHA gestur tangan dapat menjadi salah satu langkah penting dalam membangun ekosistem website yang lebih aman dan terpercaya.

Baca juga : Game Trending Saat Ini di Steam 2026

Review POCO C81 Pro, HP Value Layar Besar

Review POCO C81 Pro, HP Value Layar Besar untuk Harian

Review POCO C81 Pro menjadi menarik karena ponsel ini hadir sebagai pilihan value di kelas harga Rp1 jutaan. Dengan layar besar, baterai jumbo, dan fitur yang cukup lengkap, POCO C81 Pro terlihat menyasar pengguna yang butuh ponsel harian untuk hiburan, komunikasi, serta game ringan. Selain itu, desain dan spesifikasinya juga dibuat cukup seimbang untuk kelas entry-level.

Dalam laporan Duniaku, POCO C81 Pro disebut sebagai ponsel dengan harga sekitar Rp1.649.000 yang menawarkan layar 6,9 inci, refresh rate 120Hz, prosesor UNISOC T7250, kamera utama 13MP, dan baterai 6.000 mAh. Kombinasi ini membuat ponsel tersebut cocok untuk pengguna yang mencari layar lega dan daya tahan baterai panjang tanpa harus membeli perangkat  mahal MOMOPLAY.

Namun, Review POCO C81 Pro juga perlu dilihat secara realistis. Ponsel ini bukan ditujukan untuk pengguna yang menginginkan performa gaming berat atau kamera flagship. Sebaliknya, perangkat ini lebih cocok untuk kebutuhan sederhana seperti menonton video, membuka media sosial, chatting, belajar online, dan memainkan game ringan.

Review POCO C81 Pro dari Sisi Layar Besar

Salah satu daya tarik utama dalam Review POCO C81 Pro adalah layarnya. Ponsel ini membawa panel LCD berukuran 6,9 inci dengan resolusi 1600 x 720 piksel. Ukuran tersebut terasa besar untuk kelas ponsel value. Karena itu, pengalaman menonton video, membaca artikel, hingga scrolling media sosial terasa lebih lega.

Selain ukurannya besar, refresh rate 120Hz juga menjadi nilai tambah. Fitur ini membuat gerakan layar terlihat lebih halus. Hasilnya, navigasi menu, scrolling, dan perpindahan aplikasi terasa lebih nyaman dibanding layar standar 60Hz.

Duniaku mencatat bahwa layar POCO C81 Pro memiliki kecerahan standar 650 nit dan bisa mencapai 800 nit pada mode kecerahan tinggi. Selain itu, gamut warna 83% NTSC membuat tampilan visualnya cukup jelas untuk kebutuhan hiburan harian.

Namun, pengguna tetap perlu memahami batasannya. Karena masih memakai panel LCD HD+, kualitas warna dan ketajaman tentu belum setara dengan layar AMOLED atau resolusi Full HD+. Meski begitu, untuk kelas harga Rp1 jutaan, layar besar 120Hz tetap menjadi nilai jual yang kuat.

Performa POCO C81 Pro untuk Game Ringan

Bagian performa juga menjadi poin penting dalam Review POCO C81 Pro. Ponsel ini menggunakan prosesor UNISOC T7250 fabrikasi 12nm. Chip tersebut dipadukan dengan GPU Mali-G57, RAM 4GB LPDDR4X, dan penyimpanan UFS 2.2. Konfigurasi ini cukup menarik untuk ponsel entry-level.

Untuk penggunaan harian, spesifikasi tersebut sudah memadai. Pengguna bisa menjalankan aplikasi pesan, media sosial, browser, dan streaming dengan cukup lancar. Selain itu, dukungan ekspansi RAM virtual juga dapat membantu multitasking ringan.

Dalam pengujian Duniaku, POCO C81 Pro masih mampu menjalankan game ringan seperti Mobile Legends: Bang Bang. Game tersebut dapat berjalan dengan pengaturan HD dan peta Ultra di atas 30 FPS. Namun, untuk game berat seperti Wuthering Waves, perangkat perlu memakai pengaturan Low dengan efek dimatikan.

Artinya, POCO C81 Pro bukan ponsel gaming berat. Akan tetapi, ponsel ini masih layak untuk pengguna yang hanya bermain game kasual. Jadi, perangkat ini lebih tepat disebut sebagai ponsel harian dengan kemampuan gaming ringan.

Review POCO C81 Pro dari Kamera dan Fitur

Dari sektor kamera, POCO C81 Pro membawa kamera utama 13MP dan kamera depan 8MP. Angka ini memang sederhana. Namun, hasilnya masih cukup untuk dokumentasi harian, terutama dalam kondisi cahaya yang cukup.

Menurut Duniaku, kamera POCO C81 Pro mampu menghasilkan foto dengan noise MOMOPLAY yang cukup rendah dalam skenario indoor tertentu. Selain itu, kamera utamanya juga mendukung zoom digital hingga 10 kali. Meski begitu, pengguna sebaiknya tidak berharap kualitas detail tinggi seperti ponsel kelas menengah.

Selain kamera, fitur pendukungnya cukup lengkap. POCO C81 Pro memiliki sensor sidik jari di sisi samping, AI Face Unlock, dukungan Gemini AI, peningkatan volume hingga 200%, dan jack audio 3,5 mm. Kehadiran jack audio menjadi nilai tambah bagi pengguna yang masih memakai earphone kabel.

Namun, ada catatan penting. Berdasarkan spesifikasi dalam rangkuman, POCO C81 Pro tidak menyediakan NFC. Jadi, pengguna yang sering memakai e-money atau pembayaran tap perlu mempertimbangkan hal ini sebelum membeli.

Baterai POCO C81 Pro Jadi Nilai Kuat

Baterai menjadi salah satu alasan kuat mengapa ponsel ini menarik. POCO C81 Pro dibekali baterai 6.000 mAh. Kapasitas ini besar untuk ponsel value dan cocok untuk pengguna yang sering beraktivitas seharian.

Dengan baterai sebesar itu, ponsel ini lebih aman untuk kebutuhan ringan hingga sedang. Misalnya, menonton video, membuka WhatsApp, browsing, dan mendengarkan musik. Selain itu, kapasitas besar juga membuat pengguna tidak perlu terlalu sering mencari charger.

POCO C81 Pro juga mendukung fast charging 15W. Kecepatan ini memang bukan yang tercepat di kelasnya. Namun, keberadaannya tetap membantu, terutama karena kapasitas baterainya besar. Duniaku juga mencatat bahwa pengisian 15W sudah tersedia sebagai bagian dari paket perangkat ini.

Karena itu, baterai menjadi salah satu keunggulan paling relevan. Untuk pengguna MOMOPLAY yang lebih mementingkan daya tahan dibanding performa tinggi, POCO C81 Pro bisa menjadi pilihan yang masuk akal.

Kelebihan dan Kekurangan POCO C81 Pro

Dalam Review POCO C81 Pro, kelebihannya cukup jelas. Ponsel ini memiliki layar besar 6,9 inci, refresh rate 120Hz, baterai 6.000 mAh, jack audio 3,5 mm, sensor sidik jari samping, dan performa cukup untuk pemakaian harian. Selain itu, harga Rp1 jutaan membuatnya terlihat kompetitif.

Namun, kekurangannya juga perlu diperhatikan. Resolusi layar masih HD+, kamera masih sederhana, pengisian daya hanya 15W, dan tidak ada NFC berdasarkan spesifikasi yang dirangkum. Selain itu, performa untuk game berat juga terbatas.

Dengan melihat kelebihan dan kekurangannya, POCO C81 Pro paling cocok untuk pengguna yang butuh ponsel kedua, pelajar, orang tua, atau pengguna yang lebih sering memakai ponsel untuk hiburan ringan. Ponsel ini juga cocok untuk yang mengutamakan layar besar dan baterai awet.

Review POCO C81 Pro menunjukkan bahwa ponsel MOMOPLAY ini punya posisi yang cukup jelas. Ia bukan perangkat flagship, bukan juga ponsel gaming berat. Namun, sebagai HP value Rp1 jutaan, POCO C81 Pro menawarkan kombinasi yang cukup menarik.

Layar 6,9 inci 120Hz menjadi daya tarik utama. Selain itu, baterai 6.000 mAh membuatnya cocok untuk pemakaian harian yang panjang. Performa UNISOC T7250 juga masih cukup untuk aplikasi umum dan game ringan.

Meski begitu, pengguna perlu menerima beberapa batasan. Kamera sederhana, layar masih HD+, dan charging 15W mungkin terasa biasa saja. Namun, jika kebutuhan utama adalah ponsel murah dengan layar besar dan baterai tahan lama, POCO C81 Pro tetap layak dipertimbangkan.

Fitur Baru YouTube, Pengguna Bisa Atur Batas Nonton Shorts

YouTube Tambah Fitur Kontrol Waktu

Platform video populer kembali menghadirkan inovasi baru dengan merilis fitur pembatasan waktu menonton khusus untuk konten Shorts.

Fitur ini memungkinkan pengguna untuk mengatur durasi maksimal dalam menikmati video pendek, sehingga membantu mengurangi kebiasaan menonton berlebihan.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya YouTube dalam meningkatkan kesejahteraan digital penggunanya.

Cara Kerja Fitur Pembatasan Shorts

Pengguna Bisa Atur Sendiri

Melalui fitur ini, pengguna dapat menentukan batas waktu harian untuk menonton Shorts. Setelah batas waktu tercapai, aplikasi akan memberikan peringatan atau notifikasi.

Fitur ini memberikan kendali penuh kepada pengguna untuk mengatur kebiasaan menonton mereka sendiri.

H3: Pengingat Otomatis

Selain batas waktu, YouTube juga menyediakan pengingat otomatis yang akan muncul saat pengguna sudah menonton dalam durasi tertentu.

Pengingat ini bertujuan untuk memberikan jeda dan mendorong pengguna agar tidak terus-menerus mengonsumsi konten tanpa henti.

Upaya Mengurangi Kecanduan Konten Pendek

Fenomena Scroll Tanpa Henti

Konten video pendek seperti Shorts dikenal membuat pengguna mudah terjebak dalam kebiasaan scroll tanpa henti. Banyak orang menghabiskan waktu lebih lama dari yang direncanakan saat menonton konten jenis ini.

Fitur pembatasan waktu hadir sebagai solusi untuk membantu pengguna lebih sadar terhadap durasi penggunaan aplikasi.

Fokus pada Kesehatan Digital

Dengan adanya fitur ini, YouTube menunjukkan perhatian terhadap kesehatan digital pengguna. Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat berdampak pada produktivitas dan kesejahteraan mental.

Karena itu, fitur ini diharapkan dapat membantu pengguna menjaga keseimbangan antara hiburan dan aktivitas lainnya.

Fitur Tambahan dalam Ekosistem YouTube

Bagian dari Digital Wellbeing

Fitur pembatasan waktu ini melengkapi berbagai fitur lain yang telah ada sebelumnya, seperti pengingat waktu istirahat dan riwayat penggunaan.

Semua fitur tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman penggunaan yang lebih sehat dan terkontrol.

Bisa Disesuaikan dengan Kebutuhan

Pengguna dapat menyesuaikan pengaturan sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Baik untuk membatasi penggunaan harian atau sekadar mendapatkan pengingat agar tidak berlebihan.

Dampak bagi Pengguna

Hadirnya fitur pembatasan waktu menonton Shorts memberikan manfaat bagi pengguna yang ingin lebih mengontrol kebiasaan digital mereka.

Dengan fitur ini, pengguna tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga dapat menjaga keseimbangan dalam penggunaan teknologi sehari-hari.

Langkah yang diambil oleh sebagai induk YouTube ini menunjukkan arah baru dalam pengembangan platform digital yang lebih bertanggung jawab terhadap penggunanya.

Rating Game IGRS di Steam Salah? Ini Tanggapan Resmi dari AGI

Rating Game IGRS di Steam Salah? Ini Tanggapan Resmi dari AGI

Komunitas gamer rayaplay tanah air belakangan ini sedang ramai memperbincangkan masalah ketidaksesuaian data pada platform Steam. Hal ini bermula saat banyak pengguna menemukan label Rating Game IGRS yang tidak relevan dengan konten asli di dalam permainan tersebut. Munculnya label klasifikasi usia yang dianggap ngawur ini tentu memicu kebingungan sekaligus kritik pedas dari para pemain. Oleh karena itu, Asosiasi Game Indonesia (AGI) akhirnya memberikan pernyataan resmi untuk menanggapi isu yang tengah viral ini.

Klarifikasi AGI Mengenai Rating Game IGRS

Melalui pernyataan tertulis, AGI mengaku sangat menyadari kegaduhan yang terjadi akibat masalah sinkronisasi data tersebut. Sebab, fungsi utama dari sistem rating sebenarnya adalah sebagai panduan edukasi bagi konsumen, bukan sebagai alat pembatasan yang kaku. Selanjutnya, mereka menegaskan bahwa tujuan klasifikasi ini sangat baik untuk mendukung pertumbuhan industri video game yang sehat di Indonesia. Namun, implementasi teknis di platform global seperti Steam memang sedang mengalami kendala yang nyata.

Keterangan: Ilustrasi sistem klasifikasi usia pada video game yang kini sedang menjadi sorotan para gamer di platform digital.

Selain itu, penting untuk dipahami bahwa AGI bukanlah pihak yang memiliki kewenangan teknis secara langsung. Pasalnya, otoritas rayaplay penuh atas implementasi sistem klasifikasi usia ini berada di bawah kendali tim teknis pemerintah terkait. AGI hanya berperan sebagai mitra industri yang membantu proses diskusi antar pemangku kepentingan. Akibatnya, mereka tidak bisa melakukan intervensi langsung terhadap sistem yang muncul di halaman Steam saat ini.

Langkah Strategis dan Rencana Kedepan

Saat ini, pihak asosiasi masih menunggu pernyataan resmi dari instansi pemerintah untuk memberikan penjelasan teknis kepada publik. Tetapi, mereka berkomitmen untuk terus menjadi jembatan komunikasi antara pemain, pelaku industri, dan pembuat kebijakan. Sementara itu, diskusi terbuka tetap dilakukan guna mencari solusi terbaik bagi ekosistem digital nasional. Langkah ini diambil agar ketidaksesuaian data tidak berlanjut dan merugikan reputasi industri lokal di mata dunia.

Jika Anda ingin memahami lebih lanjut mengenai kebijakan digital, silakan baca panduan klasifikasi konten. Jangan lupa untuk terus memantau koleksi artikel teknologi kami guna mendapatkan update harian mengenai perkembangan dunia gim. Dengan demikian, para gamer diharapkan tetap tenang sambil menunggu perbaikan sistem dilakukan oleh pihak berwenang. Semoga integrasi data antara platform global dan regulasi lokal dapat segera selaras dalam waktu dekat.

baca juga : Merchandise Genshin Impact Unik: Raket Nyamuk Yae Miko Viral!

Studio Until Dawn Remake Ballistic Moon Resmi Tutup

Ballistic Moon Tutup, Studio di Balik Until Dawn Remake Resmi Bubar

Kabar mengejutkan datang dari industri game global. Ballistic Moon tutup secara resmi setelah sebelumnya dikenal sebagai studio yang mengembangkan Until Dawn Remake, salah satu game momoplay horor interactive story yang cukup populer di kalangan gamer.

Informasi mengenai pembubaran studio tersebut diketahui dari dokumen resmi yang diajukan ke pemerintah Inggris pada Februari 2026. Dokumen tersebut menyatakan bahwa perusahaan telah dibubarkan secara resmi pada tahun ini.

Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak Ballistic Moon maupun Sony terkait alasan pasti penutupan studio tersebut.

Ballistic Moon Tutup Setelah Proyek Until Dawn Remake

Studio Ballistic Moon sempat login momoplay mendapat perhatian besar ketika dipercaya mengerjakan Until Dawn Remake. Game tersebut merupakan versi baru dari judul horor populer yang sebelumnya dirilis oleh Supermassive Games.

Namun setelah perilisan remake pada Oktober 2024, muncul laporan mengenai PHK terhadap sejumlah karyawan di dalam studio tersebut. Pemangkasan tenaga kerja ini dilakukan setelah tim menyelesaikan dukungan pasca-peluncuran game.

Rumor mengenai Ballistic Moon tutup sebenarnya sudah beredar sejak Maret 2025, ketika studio disebut-sebut “ditutup secara efektif” setelah sebagian besar stafnya diberhentikan.

Studio yang Didirikan Mantan Staf Supermassive Games

Ballistic Moon sendiri didirikan pada tahun 2019 oleh sejumlah mantan staf Supermassive Games, yaitu Duncan Kershaw, Neil McEwan, dan Chris Lamb.

Ketiganya sebelumnya terlibat dalam berbagai proyek game naratif, termasuk seri yang dikenal karena pendekatan cerita interaktif dan pilihan pemain yang memengaruhi alur cerita.

Karena latar belakang tersebut, Ballistic Moon dianggap sebagai studio yang cocok untuk mengembangkan Until Dawn Remake, game momoplay yang memang dikenal dengan konsep interactive storytelling.

Respons Gamer Terhadap Until Dawn Remake

Setelah dirilis, Until Dawn Remake menerima tanggapan yang cukup beragam dari para gamer. Sebagian pemain memuji peningkatan visual serta pembaruan teknis yang dihadirkan dalam versi remake tersebut.

Namun di sisi lain, ada pula kritik yang menyebut bahwa perubahan yang dilakukan tidak terlalu signifikan dibandingkan versi originalnya.

Di situs agregator ulasan Metacritic, game ini memperoleh skor sekitar 70, yang menunjukkan respons cukup baik namun tidak sepenuhnya memuaskan semua pemain.

Industri Game Semakin Kompetitif

Kasus Ballistic Moon tutup juga menunjukkan betapa kompetitifnya industri game momoplay modern. Banyak studio baru yang harus menghadapi tantangan besar seperti biaya pengembangan tinggi, tekanan pasar, serta ekspektasi gamer yang terus meningkat.

Bahkan studio yang memiliki pengalaman dari proyek besar sekalipun tidak selalu mampu bertahan dalam jangka panjang jika kondisi bisnis tidak mendukung.

Perubahan struktur perusahaan, pembatalan proyek, hingga penutupan studio menjadi fenomena yang cukup sering terjadi dalam industri game global.

Masa Depan Waralaba Until Dawn

Meski Ballistic Moon tutup, waralaba Until Dawn kemungkinan masih memiliki masa depan di industri game. Sony sebagai pemegang hak distribusi masih memiliki peluang untuk melanjutkan pengembangan seri tersebut melalui studio lain.

Game dengan konsep interactive horror seperti Until Dawn masih memiliki basis penggemar yang cukup kuat. Karena itu, tidak menutup kemungkinan akan ada proyek lanjutan di masa mendatang.

baca juga : Laba-laba Resident Evil Requiem: Rapper Ice T Ketakutan

Kabar Ballistic Moon tutup menjadi salah satu berita yang mengejutkan di dunia game. Studio yang sempat dipercaya mengerjakan Until Dawn Remake tersebut kini resmi dibubarkan setelah beberapa tahun beroperasi.

Meski demikian, karya yang mereka hasilkan tetap menjadi bagian dari perjalanan waralaba Until Dawn yang dikenal dengan pendekatan cerita horor interaktif yang unik.

YouTube tidak bisa diakses, Ribuan Pengguna Terdampak

Platform YouTube Sempat Tidak Bisa Diakses, Ribuan Pengguna Terdampak

Platform berbagi video terbesar di dunia, YouTube, sempat mengalami gangguan akses rayaplay pada pagi hari 18 Februari 2026. Insiden ini langsung menjadi perbincangan hangat di media sosial karena banyak pengguna melaporkan tidak dapat mengakses halaman utama platform tersebut.

Gangguan rayaplay terjadi sekitar pukul 08.00 WIB dan berdampak pada pengguna mobile maupun desktop.

Layar Putih di Halaman Utama

Sejumlah pengguna menyebutkan bahwa ketika membuka aplikasi atau situs YouTube, yang muncul hanyalah layar putih tanpa rekomendasi video, thumbnail, atau riwayat tontonan.

Meski demikian, sebagian pengguna masih bisa memutar video yang sebelumnya telah dibuka atau tersimpan dalam histori akun mereka. Artinya, gangguan tampaknya lebih berfokus pada tampilan beranda dan sistem rekomendasi.

Lonjakan Laporan di DownDetector

Berdasarkan data dari DownDetector, laporan gangguan mulai muncul sekitar pukul 07.34 WIB dengan puluhan laporan awal.

Dalam waktu singkat, jumlah laporan melonjak drastis hingga ratusan ribu. Puncaknya terjadi sekitar pukul 08.19 WIB sebelum kemudian mulai menurun sekitar pukul 09.04 WIB.

Lonjakan tersebut mengindikasikan gangguan berskala luas yang memengaruhi banyak pengguna secara bersamaan.

Gangguan di Berbagai Perangkat

Masalah YouTube tidak bisa diakses tidak terbatas pada satu platform saja. Pengguna rayaplay Android, iOS, PC, hingga MacOS turut melaporkan kendala serupa.

Beberapa akun menyebutkan muncul pesan kesalahan seperti “Something Went Wrong”, sementara yang lain hanya mendapati halaman kosong tanpa notifikasi apa pun.

Layanan Kembali Normal

Beruntung rayaplay, gangguan tersebut tidak berlangsung lama. Dalam waktu kurang dari dua jam, sebagian besar pengguna melaporkan bahwa layanan sudah kembali normal dan fungsi utama YouTube dapat digunakan seperti biasa.

Hingga artikel ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pihak Google terkait penyebab gangguan tersebut.

Dugaan Penyebab Gangguan

Meski belum ada konfirmasi resmi, gangguan semacam ini biasanya berkaitan dengan:

  • Masalah server pusat

  • Gangguan sistem distribusi konten (CDN)

  • Update sistem backend yang belum stabil

Insiden ini kembali menunjukkan betapa bergantungnya aktivitas digital masyarakat pada platform besar seperti YouTube, terutama bagi kreator konten dan pengguna yang mengandalkan layanan tersebut untuk pekerjaan atau hiburan.

Gangguan YouTube tidak bisa diakses pada 18 Februari 2026 sempat memicu kepanikan singkat di kalangan pengguna. Lonjakan laporan yang signifikan menunjukkan dampak luas, meski layanan akhirnya kembali pulih dalam waktu relatif cepat.

Kini, seluruh fungsi YouTube telah berjalan normal, sementara publik masih menunggu penjelasan resmi dari Google terkait insiden tersebut.

Exit mobile version