Komdigi Selidiki Dugaan Kebocoran 58 Juta Data Pendidikan
Isu kebocoran data pendidikan kembali menjadi perhatian publik setelah muncul klaim akaislot adanya 58 juta data siswa yang diduga bocor dan diperjualbelikan. Menanggapi kabar yang ramai beredar di media sosial tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) langsung mengambil langkah investigasi untuk memastikan kebenaran informasi.
Langkah ini dilakukan guna menjaga keamanan informasi pribadi siswa serta mencegah kepanikan yang tidak berdasar.
Dugaan Penjualan Akses API Jadi Sorotan
Isu bermula dari unggahan viral pada awal Februari 2026 yang menyebut adanya peretas anonim dengan nama “SN1F”. Akun tersebut mengklaim menawarkan akses langsung ke server pemerintah melalui Application Programming akaislot Interface (API).
Klaim tersebut menyebut bahwa pembeli bisa mengakses data lama maupun data terbaru secara berkelanjutan. Informasi ini langsung memicu kekhawatiran publik, mengingat jumlah data yang disebutkan mencapai puluhan juta.
Investigasi Lintas Kementerian Dilakukan
Direktur Jenderal Pengawasan akaislot Ruang Digital Komdigi, Alexander Sabar, menegaskan bahwa pihaknya melakukan penelusuran menyeluruh terhadap informasi yang beredar.
Komdigi bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk melakukan investigasi teknis secara terkoordinasi. Pendalaman dilakukan guna memverifikasi apakah benar terdapat celah keamanan yang memungkinkan akses ilegal terhadap data siswa.
Pendekatan yang digunakan disebut bersifat komprehensif dan berbasis analisis teknis, bukan sekadar respons terhadap rumor.
Bantahan dari Kementerian Pendidikan
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar akaislot dan Menengah menyampaikan bahwa hasil penelusuran internal tidak menemukan indikasi kebocoran data. Menurutnya, informasi yang beredar lebih bersifat klaim sepihak dari pihak yang belum dapat diverifikasi.
Pernyataan tersebut diperkuat oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, yang memastikan data mahasiswa masih dalam kondisi aman berdasarkan sistem pemantauan internal.
Komitmen Transparansi dan Keamanan Siber
Meski akaislot telah ada bantahan dari kementerian terkait, Komdigi tetap melanjutkan investigasi. Tujuannya adalah memastikan seluruh temuan disampaikan secara objektif dan berbasis fakta teknis.
Langkah ini dinilai penting untuk menjaga kepercayaan publik, terutama dalam konteks keamanan siber yang semakin krusial di era digital. Data pendidikan termasuk kategori informasi sensitif karena berkaitan dengan identitas pribadi siswa dan mahasiswa.
Ancaman Keamanan Data di Era Digital
Kasus dugaan kebocoran data pendidikan ini menjadi pengingat bahwa ancaman siber terus berkembang. Pemerintah perlu meningkatkan penguatan sistem keamanan, audit berkala, serta edukasi keamanan digital bagi institusi pendidikan.
Isu kebocoran data juga sering kali dimanfaatkan untuk menyebarkan kepanikan, sehingga verifikasi resmi menjadi kunci untuk menghindari kesimpulan prematur.
Komdigi selidiki dugaan kebocoran 58 juta data pendidikan sebagai langkah responsif terhadap isu yang viral. Meski hasil awal dari kementerian terkait menyatakan tidak ada kebocoran, investigasi tetap dilakukan untuk memastikan keamanan sistem.
Publik diimbau untuk menunggu hasil resmi dan tidak mudah terpancing oleh klaim yang belum terverifikasi. Keamanan data pendidikan tetap menjadi prioritas utama dalam menjaga integritas sistem digital nasional.
